MEMBANGUN GENERASI QUR’ANI

H.M. Nasir, Lc., MA
Agusman Damanik, MA

Sebagaimana menurut Mufassir kenamaan Manna Khalil Qattân, bahwa Al Quran adalah firman Allah SWT. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. dengan berbahasa Arab, tidak ada keraguan padanya, bernilai ibadah dalam membacanya. Dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas. Pengertian tentang Al Quran yang dikemukakan oleh Manna Khalil Qattân tersebut, merupakan bentuk penyadaran kepada seluruh umat Islam untuk lebih memahami eksistensi Al Quran di era globalisasi. Era globalisasi yang ditandai dengan era perubahan, kemajuan maupun persaingan telah menghantarkan manusia untuk bersaing di alam arena peningkatan kualitas, loyalitas dan moralitas.

Namun sangat disayangkan, kebanyakan manusia, khususnya umat Islam yang terlibat dalam persaingan tidak berpedoman dengan kitab suci yang telah memuat berbagai strategi pemenangan baik dari aspek teologi sosial, politik, ekonomi dan sebagainya. Sehingga mereka mengalami kekalahan yang ironi dan menyedihkan. Dikatakan ironi dan menyedihkan (Yahudi dan nasrani) sebab lawan persaingannya menggunakan strategi yang bersumber dari rujukan representatif dan dapat dipertanggung jawabkan yaitu Al Qur’anul Karim dibanding kitab-kitab suci yang lain. Pernyataan penulis di atas merupakan renungan bagi kita untuk bergerak bersama membangun generasi Qurani, dengan kata lain, mari kita bangun dari keterninaboboan yang selalu bangga dengan berbagai mimpi tentang kebesaran dan kesombongan menuju “rumah idaman” yang disinari dengan nilai-nilai Al Quran. Adapun cara terbaik membangun generasi Qurani dengan menggunakan rumus 4 M + 1 A yaitu membaca, menghayati, mengamalkan, dan membumikan Al Quran.

Pertama, Membaca
Membaca Al Qur’an memiliki nilai ibadah atau dapat menambah pahala bagi setiap pribadi seorang muslim, yang selalu mencari keridhaan Allah SWT. (Yabtaghmna Fadlan minallâh wa ridhwanâ). Namun untuk meraih tambahan pahala tersebut, seorang muslim harus mampu membaca Al Quran dengan baik dan lebih baik membaca Al Quran dengan baik dimaksud bahwa seorang muslim harus bisa membaca Al Quran minimal sesuai standard metode Iqra’ yang paling dasar (Iqra’ 1, 2, 3, dan 4). Sedangkan maksud membaca Al Quran yang lebih baik, membaca Al Quran dengan menggunakan metode Tajwid bahkan ditambah penggunaan lagu Al Quran sesuai standard penilaian MTQ (lagu Bayati, Soba, Hijaz, Ras, Nahawand, Sika, Ziharkah) dan lain sebagainya.

Terkait dengan pahala yang diperoleh seseorang ketika membaca Al Quran, Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Barang siapa yang membaca Al Quran, maka baginya sepuluh kebaikan, bukan “Çáã” adalah satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf. Hadits Nabi di atas, membedakan motivasi konstruktif bagi setiap muslim untuk lebih memperbanyak membaca Al Quran, selain bernilai ibadah, juga dapat menjadi obat penawar bagi hati seorang muslim yang dirundung kegelisahan menghadapi problematika kehidupan. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surat alIsra’ ayat 82 : “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”

Kedua, Menghayati
Menghayati dapat diartikan memahami makna terdalam dari Al Quran. Dimulai dari mengetahui arti ayat yang dibaca, kemudian memahami isi kandungannya. Dengan mengetahui arti ayat yang dibaca, maka seseorang akan membaca dengan penuh kekhusu’an. Sebab ia terhanyut dan terikut dalam rangkaian arti ayat-ayat Al Quran tersebut. Pada akhirnya, menghantarkan seseorang untuk menjadikan Al Quran bacaan harian dalam mengisi “ruang rindu” kehidupan. Sebaliknya, seseorang yang tidak mengetahui arti ayat yang sedang dibaca, laksana keledai membawa berbagai bentuk buku-buku di atas punggungnya. (Kalhimâru yahmi asfârôn) namun tetap diberi pahala oleh Allah Swt. Adapun memahami isi kandungan Al Quran mengetahui secara mendasar ilmu tentang Al Quran, baik mengenai ayat-ayat Makkiyah dan Madaniah, asbab alnuzul, al nasikh wal mansukh dan lain sebagainya. Penguasaan keilmuan kita tentang Al Quran akan mengokohkan keyakinan kita tentang kebenaran Al Quran sebagai panduan dalam kehidupan. Namun dalam hal penguasaan ilmu tentang Al Quran dapat dihitung jari jumlahnya, kendatipun demikian paling tidak kita mengetahui arti ayat Al Quran yang kita baca.

Ketiga, Mengamalkan
Nabi Muhammad SAW. tidak saja memerintahkan kepada umatnya untuk membaca dan menghayati Al Quran, lebih dari itu Nabi menyuruh kepada umatnya untuk mengamalkan isi kandungan Al Quran dalam kehidupan. Terkait dengan pengamalan isi kandungan Al Quran, seorang muslim sejati akan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan kekasihnya (Allah) daripada orang lain (selainnya). Dengan demikian, pedagang muslim yang mengamalkan Alquran selalu menjauhi perbuatan curang dan zalim. Pemimpin muslim yang mengamalkan Alquran selalu menjauhi sifat khianat dalam menjalankan agenda pemerintahannya. Bahkan da’i muslim Qurani akan tetap istiqamah untuk tidak berlaku munafiq dalam menyampaikan dakwahnya, sehingga Alquran yang dibaca tidak melaknat si pembaca itu sendiri, Nabi Saw. bersabda : “Betapa banyak pembaca Alquran, sedangkan Alquran itu sendiri melaknatnya”. (Al Hadits).

Keempat, Membumikan
Membumikan Al Quran merupakan integrasi dari membaca, menghayati dan mengamalkan Al Quran. Membumikan berarti adanya kontinuitas untuk mengamalkan sekaligus mensyiarkan Al Quran dalam kehidupan, baik dengan mengadakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) maupun Musabaqah ‘Amalul Quran (MAQ). Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) sebagai salah satu sarana untuk mensyiarkan Islam dan meningkatkan kualitas pengetahuan generasi muslim tentang Al Quran yang terdiri dari Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqah Fahmil Quran (MFQ), Musabaqah Syarhil Quran (MSQ), Musabah Khattil Quran (MKQ) dan lain sebagainya. Namun musabaqah yang seyogyanya disosialisasikan adalah Musabaqah ‘Amalul Quran) (MAQ), yakni perlombaan untuk mengamalkan Al Quran dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, budaya, politik, ekonomi maupun teknologi, walaupun selalu dihadapkan dengan pembunuhan dan kurungan budaya.

Penutup
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Alquran merupakan subjek sekaligus objek. Alquran merupakan subjek dalam arti dia dapat merobah moralitas manusia dan menghidupkan jiwa yang mati sehingga menjadi generasi Qurani yang didambakan. Alquran merupakan sebagai objek bukan hanya untuk diperlombakan tetapi dia harus dibumikan, dan upaya untuk mencapai ke arah itu paling tidak mengamalkan. Rumus 4 M + 1 A (Membaca, Menghayati, Mengamalkan dan Membumikan Alquran).Wallahua’lam

Penulis : Ketua Panitia MTQ antar Perguruan Tinggi se-Sumut.
Koordinator Bidang Tilawah MTQ antar Perguruan Tinggi se-Sumut.

Dikutip oleh Mr. Suyadi dari:
http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=17558

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s